Tren “Mannequin Challenge” Mendunia dan Lintas Kalangan

Baru beberapa saat lalu video Pine-Pineapple-Apple-Pie (PPAP) menghebohkan jagat maya, kini tren penggantinya sudah muncul. Disebut Mannequin Challenge, tren tersebut membuat netizen berbondong-bondong mengunggah video bak patung manekin.

Tren ini mewabah di semua kalangan, mulai dari politikus, artis, pemain bola, hingga masyarakat pada umumnya. Konsep Mannequin Challenge sendiri terbilang sederhana, Anda cukup mengajak teman-teman mematung dengan pose bebas selama lebih kurang 30 detik hingga satu menit.

Lagu yang paling sering dipakai mengiringi Mannequin Challenge adalah Black Beatles yang dinyanyikan Rae Sremmurd. Namun, banyak juga netizen yang memilih menggunakan lagu lain.

Baca: Tips Membuat Video Viral oleh YouTuber Indonesia

Biasanya pose mematung itu menggambarkan kegiatan tertentu. Misalnya pemain bola Christiano Ronaldo yang melakukan Mannequin Challenge bersama tim Portugal di sebuah ruang ganti.

Maka pose orang-orang di dalamnya ada yang sedang meluruskan kaki, mengambil pakaian ganti, melepas sepatu, menelepon, dan lainnya. Ronaldo sendiri hanya berdiri dengan mengenakan celana dalam putih. Ekspresinya tampak seperti ingin memanggil orang.
Beda halnya dengan kandidat Presiden AS pada Pemilu 2016 dari Partai Demokrat, Hillary Clinton. Ia sempat melakukan Mannequin Challenge bersama tim kampanyenya di sebuah pesawat.

Ada yang tampak menyunting kegiatan kampanye itu, menjepret Hillary, mengobrol, melakukan high five, dan lainnya.
Di Instagram, tagar #mannequinchallenge tersebar di lebih dari 900.000 postingan, sebagaimana dipantau KompasTekno, Selasa (22/11/2016).

Di Indonesia sendiri, tagar #mannequinchallengeindonesia sudah disesaki lebih dari 5.000 postingan. Itu belum ditambah tagar-tagar lainnya seperti #mannequinchallengeid, #mannequinchallengeindo, dan #mannequinchallengeidn.
Jika ingin mencari inspirasi membuat video Mannequin Challenge yang lebih lengkap, YouTube menghimpun sekitar 1,2 jutaan video dengan embel-embel kata kunci tersebut.

Ketenaran Mannequin Challenge menambah daftar panjang tren media sosial yang mendunia. Sebelumnya sudah ada tren Planking, Gangnam Style, Harlem Shake, Ice Bucket Challenge, Watch Me Whip/Nae Nae, Dab Dance, dan PPAP.

Iklan

Rahasia Sukses “Startup”, Layani Konsumen Laiknya Raja

“Satu buket bunga dikirim pukul 12 seharga Rp 135.000 dengan ongkos kirim Rp 12.000,” bunyi layanan pesan singkat (SMS) di layar ponsel pintar Ferdi pada siang itu.

Sebelumnya, Ferdi memang minta tolong lewat aplikasi khusus kepada si pengirim pesan untuk dibelikan buket bunga buat sang istri.

Buket bunga itu akan Ferdi hadiahkan kepada sang istri, sebagai bagian perayaan ulang tahun kedua pernikahan mereka.

Bukan, si pengirim pesan tadi bukanlah asisten pribadi Ferdi melainkan sebuah layanan perusahaan rintisan digital (startup) dengan tawaran jasa laiknya asisten pribadi.

Dengan layanan tersebut, Ferdi tak perlu ketinggalan rapat pada sore itu. Saat waktu makan malam tiba bersama sang istri, buket bunga pun sudah akan tersedia.

Solusi

Lewat perkembangan teknologi, banyak startup bermunculan, termasuk di Indonesia. Layanan yang ditawarkan pun tergolong tak biasa.

Pengguna bisa memesan atau melakukan sesuatu tanpa harus beranjak ke mana-mana, menjadikan konsumen laiknya raja.

Kalau layanan Go-Mart dari Go-Jek seperti yang dipakai Ferdi bisa dimintai tolong dari membeli buket bunga, tiket nonton bioskop sampai memesan makan malam, lain lagi dengan HappyFresh.

Startup yang satu ini menawarkan kemudahan berbelanja sayur-mayur, menjadi solusi bagi wanita karier yang juga berstatus ibu rumah tangga.

Dengan kecanggihan teknologi, startup hadir menjadi solusi bagi masalah publik. Meski memiliki layanan dan segmen pasar yang berbeda, startup seperti Go-Jek dan HappyFresh sama-sama menawarkan kemudahan.

Menurut riset Growth from Knowledge (GfK) pada 2015, kontribusi industri internet—termasuk startup di dalamnya—per tahun pada kurun 2010 sampai 2016 mencapai rata-rata 16,6 persen produk domestik bruto Indonesia.
Thinkstock
Ilustrasi kebutuhan penggunaan internet.

Di Indonesia, ranum bisnis startup terjadi seiring sejalan dengan penetrasi penggunaan internet dan smartphone. Selain itu, ada pula peluang dari pemilik modal ventura (venture capitalist) yang punya minat tersendiri terhadap model usaha ini.

“Startup bidikan para pemilik modal adalah yang dianggap dapat memberikan keuntungan jangka panjang,” ujar konsultan bisnis internasional Wempy Dyocta Koto, seperti dikutip KompasTekno, Rabu (3/2/2016).

Menurut dia, venture capitalist melirik startup sebagai bisnis potensial.

Potensi ranum bisnis

Wempy melanjutkan, ada lima jenis startup yang berpotensi mengundang minat venture capitalist. Kelima jenis startup itu adalah yang bergerak di bidang pengembangan teknologi virtual reality (VR), keamanan cyber, kesehatan konsumen, robotik dan drone, serta internet.

“Hingga 2020, setidaknya akan ada 25 miliar objek terkoneksi dengan internet,” ujar Wempy. Proyeksi inilah, sebut dia, yang menjadi peluang bagi startup di bidang internet.

Namun, merujuk riset GfK juga, ada tantangan yang datang bersama peluang tersebut. Keterbatasan teknologi dan infrastruktur, tercakup di dalamnya.

(Baca: Ini Peluang dan Kendala Pertumbuhan Startup di Indonesia).

Salah satu hal penting agar bisnis startup dapat meraksasa adalah sistem pengelolaan data perusahaan. Bagaimana pun, bisnis berbasis teknologi sangat bergantung pada sistem pengolahan dan pemrosesan data.

Satu kesalahan dalam pengelolaan data bisa menghambat bahkan merugikan perusahaan.

Untuk itu, ketepatan memilih server menjadi salah satu faktor penambah peluang keberhasilan bisnis startup. Keunggulan kapasitas, jenis prosesor, dan performa kinerja mutlak jadi pertimbangan.

Lenovo System x3650 M5, misalnya, mengadopsi 12 Gbps RAID sampai 4 adapter dan dilengkapi prosesor Intel Xeon E5-2600 v4 untuk menunjang performa server.

Dengan spesifikasi tersebut, data yang diolah jauh dari kemungkinan kesalahan baca tulis dan beratnya pemrosesan.

Server itu juga dibekali sistem predictive failure analysis, untuk meminimalkan risiko kegagalan sistem sekaligus otomatis memperkirakan kerusakan bila gangguan sistem tak terhindarkan.

Siap melayani konsumen laiknya raja?

Instagram Stories Resmi Dukung “Live Streaming”

Instagram sebelumnya telah memberikan petunjuk akan menghadirkan fitur siaran langsung (live streaming). Kini, Instagram telah resmi mengumumkan, fitur tersebut bakal hadir di aplikasi mobile besutannya.

Pengguna Instagram bisa menayangkan live video streaming via Stories. Caranya adalah dengan membuka Stories baru, lalu memilih opsi “Start Live Video”. Opsi tersebut bisa diakses dengan menyapukan jari ke arah kanan di antarmuka utama.

Instagram kemudian bakal memeriksa kecepatan koneksi internet, lalu menghitung mundur sebelum memulai live streaming. Sama seperti pada Facebook Live, pengguna Instagram bisa melakukan live streaming dengan durasi maksimum selama satu jam.

Baca: Sehari, 100 Juta Orang Tonton Video Instagram Stories

Bedanya, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Buzzfeed, Selasa (22/11/2016), Instagram tidak membikin tautan berisi “undangan” ke live video pengguna untuk disebarkan di media sosial lain semacam Twitter dan Facebook.

Instagram hanya akan memberikan notifikasi ke sebagian teman yang memilih untuk mendapat update posting baru dari pengguna. Teman-teman lain di Instagram akan melihat badge berbunyi “Live” di avatar pengguna di kanal Stories.

Instagram
Foto dan video stories bisa ditambahkan di Direct Message. Caranya adalah dengan menyapukan jari ke kanan dari tampilan utama untuk membuka kamera Stories, lalu meng-klik tanda panah di kanan bawah layar.
Usai live streaming, video tidak disimpan dan tidak bisa diputar kembali sehingga benar-benar hanya bisa disaksikan saat berlangsung. Meski demikian, ada fitur pelaporan untuk mencegah penyalahgunaan live streaming.

Instagram turut menambah fitur pengiriman foto dan video yang bisa menghilang lewat pesan teks Instagram Direct. Di tampilan Direct, pengguna bakal melihat deretan icon mirip Stories di bagian atas.

Sedikit berbeda dari Stories, foto dan video instan di Direct ini hanya bisa dilihat sekali sebelum terhapus secara otomatis.

Saat ini, dua fitur baru tersebut belum bisa dinikmati. Keduanya akan mulai disalurkan secara bertahap ke pengguna Instagram di platform iOS dan Android dalam beberapa minggu ke depan.

Tiru Apple, Samsung Bikin Galaxy S7 “Jet Black”?

Setelah Apple menerima banyak permintaan iPhone 7 varian warna Jet Black, Samsung tampaknya telah terpincut hal yang sama. Perusahaan asal Korea Selatan tersebut dikabarkan bakal mencoba peruntungan dengan membuat Galaxy S7 dengan warna Jet Black.

Dikutip KompasTekno dari The Korea Herald, Selasa (22/11/2016), kemungkinan tersebut diembuskan oleh seorang sumber dalam industri yang tidak mau disebut namanya. Rumor tersebut juga banyak diyakini tepat oleh sejumlah pihak.

Sang sumber membeberkan, Galaxy S7 varian Jet Black direncanakan dirilis pada Desember mendatang. Bulan tersebut dipilih guna menyambut libur Natal 2016 dan Tahun Baru 2017.

Alasan penjualan iPhone 7 versi Jet Black ini adalah permintaannya yang sungguh tinggi, bahkan di luar dugaan Apple. Persediaan awal iPhone 7 Jet Black Apple langsung habis dan pengiriman unit baru varian ini harus dipercepat beberapa minggu setelah peluncuran.

Baca: Inikah Penyebab Kelangkaan iPhone 7 Jet Black?

Situs pelacak inventaris produk-produk Apple, iStockNow bahkan menunjukkan data bahwa Apple masih kewalahan menerima permintaan iPhone 7 varian Jet Black hingga saat ini. Padahal jalur pasokan bahan bakunya sudah dipercepat.

Mengingat hal itu, ditambah Galaxy S7 yang masih menjadi produk andalan Samsung (setelah recall Note 7), maka tidak heran jika Samsung berupaya mengkapitalisasi Galaxy S7 dengan cara membuat varian warna yang berbeda, seperti Jet Black.

Lagi pula, tidak ada lagi ponsel flagship Samsung dari lini Note yang dipasarkan pada 2016 ini.

Internet, Cepat Saja Tak Cukup

Jangan heran kalau hari-hari ini banyak orang datang ke warung kopi atau tempat makan malah lebih dulu bertanya soal akses Wi-Fi, bukannya menu.

Fenomena serupa sudah jamak pula merambah tempat-tempat umum lain, dari perpustakaan, taman, hingga bandara.

Kebutuhan mencari akses Wi-Fi ini tak terlepas dari kecenderungan makin lekatnya orang-orang pada teknologi internet. Terlebih lagi, ponsel pintar (smartphone) dengan kemampuan mengakses internet sudah jadi barang lumrah dalam keseharian.

Riset Google terbaru, seperti diunggah lewat situs web http://www.thinkwithgoogle.com pada September 2016, menguatkan bahwa orang sudah makin intim dengan internet.

Berdasarkan jajak pendapat yang mendapatkan 14.000 respons, riset tersebut mendapati, saat ini orang-orang otomatis meraih ponsel atau gagdet lalu berselancar di dunia maya setiap kali butuh mencari sesuatu.

Karenanya, tak akan aneh lagi bila pengalaman seperti dialami GM Marketing & Communication MyRepublic, Winnie Sularto, saat membawa putranya ke tempat makan terjadi juga di mana-mana.

“Anakku tuh (langsung) cari ada Wi-Fi enggak di sini?” tutur Winnie saat berbincang dengan Kompas.com beberapa waktu lalu.

Kebutuhan Wi-Fi pun tak lagi terbatas sekadar untuk berbincang lewat layanan chat, bermain game online, atau sekadar mendapatkan kabar terbaru dari situs web.
http://www.thinkwithgoogle.com
Tren pencarian menggunakan internet berdasarkan riset Google yang dipublikasikan pada September 2016

Riset Google yang sama mendapati, pengambilan keputusan cepat pun sekarang makin mengandalkan informasi dari laman internet.

Nah, mencari akses Wi-Fi di tempat umum, bisa jadi adalah salah satu cara untuk sedikit menghemat pemakaian kuota internet dari ponsel atau gadget.

Tak perlu lagi ada cerita tiba-tiba komunikasi chat putus karena paket data internet habis, atau malah harus “kentang” tak selesai menonton tontonan dalam jaringan (online) gara-gara alasan yang sama.

Maunya yang tanpa batas, cepat, dan murah

Measuring the Information Society Report 2015 dari International Telecommunication Union (ITU) menyebutkan, orang Indonesia menghabiskan rata-rata Rp 50.000 hingga Rp 300.000 untuk membeli pulsa atau berlangganan jaringan telekomunikasi.

Bayangkan bila dalam satu keluarga ada lima orang—terdiri dari ayah, ibu, dua anak, dan satu asisten rumah tangga—yang semuanya menggunakan akses internet. Biayanya sudah bisa langsung dihitung, bukan?

Sudah begitu, tantangan bagi pengakses internet Indonesia saat ini adalah kecepatan. Percuma kalau tersedia banyak akses dan biayanya masih terjangkau, tetapi lemot saat dipakai.

(Baca: Sudah Zaman Roket, Masa Internet Masih Mau Lelet?)

Jawaban untuk tantangan kecepatan ini datang dalam rupa teknologi jaringan berbasis fiber optic. Ibarat jalan, jaringan ini memberikan layanan laiknya jalan tol dibandingkan jaringan kabel biasa atau mobile.

Thinkstock
Ilustrasi Fiber Optic

Teknologi berbasis fiber optic membuka peluang kecepatan internet melesat di atas 100 Mbps. Bandingkan dengan rata-rata kecepatan puncak Indonesia pada akhir 2015 di kisaran 79,8 Mbps, seperti dilansir Akamai Technologies pada April 2016, yang itu pun baru melejit 495 persen dari data pada 2014.

(Baca juga: Kecepatan Puncak Internet Indonesia Peringkat ke-6 Dunia)

Ups, belum selesai tantangan bagi pengguna internet Indonesia, kalau biaya masuk akal dan kecepatan akses internet yang ditawarkan suatu provider sudah mumpuni tetapi penggunaannya masih terbatas volume atau waktu pemakaian tertentu.

Pada praktiknya, banyak tawaran layanan internet berbasis jaringan fiber optic yang harganya terjangkau menerapkan sistem kuota dan fair usage policy (FUP).

Konsekuensi dari kedua kebijakan itu, pemakaian internet ngebut hanya terjadi ketika kuota belum tersedot atau batas waktu pemakaian belum terlewati. Hasilnya, kecepatan pun anjlok juga saat kuota habis atau batas itu terlewati.

Menjadi menarik ketika ada provider yang menjanjikan kecepatan tinggi yang stabil tanpa batasan kuota maupun penerapan FUP, dengan harga masuk akal, seperti dilakukan MyRepublic.

Internet Service Provider (ISP) ini menyediakan layanan paket internet pita lebar (broadband) dengan kisaran kecepatan 50 Mbps hingga 300 Mbps. Paket harga yang ditawarkan rata-rata Rp 300.000 per bulan.

Paket tersebut sudah mengakomodasi kebutuhan streaming, gaming, dan downloading. Saat dipasang di rumah dengan lima penghuni seperti contoh di atas, biaya yang dapat dihemat pun bisa lagsung dihitung kembali karena pemakaian akses internet dapat dibagi melalui jaringan Wi-Fi.

Targetnya, MyRepublic melayani akses internet cepat bagi 2 juta rumah pada 2020. Kota-kota yang mulai disambangi jaringannya adalah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Malang, Surabaya, Semarang, Medan, dan Palembang.

Arti kecepatan internet

Selama ini informasi ukuran kecepatan jaringan internet hanya seperti jargon, semacam makin besar angka kecepatannya maka kenikmatan mengakses internet dijanjikan meningkat pula. Namun, hitungan di balik angka-angka itu tak banyak bertebaran.

Bila penggunaan internet masih terbatas untuk chat atau komunikasi lewat e-mail, hitungan di balik ukuran kecepatan tersebut bisa jadi tak terlalu terasa. Beda cerita ketika internet sudah dipakai untuk mengakses file berukuran besar seperti video, tontontan streaming, dan game online.

Kecepatan internet akan menentukan lama waktu buffering dan akses saat mengakses file-file berukuran besar tersebut. Merujuk fact sheet MyRepublic, kecepatan internet 100 Mbps setara dengan mengunduh file berukuran 12 MB dalam waktu satu detik.

Biar lebih tergambar, ilustrasinya adalah, file besar berukuran 40 GB akan butuh waktu 533 menit saat diunduh lewat jaringan internet dengan kecepatan 8 Mbps. Dengan jaringan 100 Mbps seperti milik MyRepublic, waktu unduh terpangkas menjadi 53 menit saja.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Ilustrasi menonton tayangan streaming melalui smartphone

Film berkualitas HD, dengan ukuran file sekitar 4,5 GB, butuh waktu unduh 60 menit di kecepatan internet 8 Mbps tetapi hanya 6 menit di kecepatan 100 Mbps.

Lalu, foto berukuran 10 MB yang di kecepatan 8 Mbps butuh waktu unduh 2 detik, sudah bisa dilihat dalam waktu kurang dari setengah detik bila diunduh dengan kecepatan 100 Mbps.

Dari beragam kecepatan internet yang bisa diakses di Indonesia, kecepatan 5-10 Mbps bisa dipakai untuk kegiatan multitasking seperti mengakses file YouTube dan aktivitas online lain. Namun, kecepatan itu cuma optimal tanpa ada jeda buffering bila 2-3 perangkat saja yang memakai jaringan internet pada saat bersamaan.

Nah, kecepatan 100 Mbps sebagaimanan kecepatan rata-rata yang disediakan MyRepublic, jelas memungkinkan pula aktivitas multitasking. Kelebihannya, kecepatan tetap optimal—tak terjeda buffering—meski pada saat bersamaan ada 12-15 perangkat berbarengan memakai jaringan internet ini.

Kalau sudah begini, mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya atau bahkan mengumpulkan referensi untuk pengambilan cepat keputusan—seperti temuan dalam riset Google soal penggunaan internet—bakal makin mudah menemukan jalannya.

Menarik?

Ini Asal-usul Video “Mannequin Challenge”

Mannequin challenge alias tantangan mematung bak maneken menjadi fenomena baru di internet. Berbagai kalangan, mulai dari politikus, pemain bola, artis, hingga masyarakat biasa, berbondong-bondong mengunggah video mannequin challenge di media sosial.

Lantas, siapa yang pertama kali memulai tren itu? Usut punya usut, asal-usulnya berasal dari sekelompok murid di Edward H White High School, Florida, Amerika Serikat.

Salah satu penggagasnya, Jasmine Cavins, bercerita soal ide mannequin challenge yang berasal dari keisengan, sebagaimana dilaporkan ABCNews dan dihimpun KompasTekno, Selasa (22/11/2016).

Kala itu, di ruang kelas, seorang murid bernama Emili berjalan ke sisi depan dan tiba-tiba mematung. Hal tersebut disadari murid lainnya bernama Alaynah.

“Hei, kau seperti maneken,” kata Alaynah yang dicontohkan Cavins.

Baca: Bad hingga Panjat Sosial, Tren Video Sindiran di YouTube

Dua teman mereka lainnya, Jasmine dan Breonna, sontak ke depan kelas dan turut mematung seperti Emili. Nah, seorang teman bernama Deryk-lah yang kepikiran untuk menjadikan keisengan temannya sebagai tantangan.

“Di situ baru kami merekam videonya dengan pose-pose aneh,” Cavins menuturkan.

Cavins mengunggah video mannequin challenge bersama teman-temannya di akun Twitter personalnya pada 27 Oktober lalu. Video itu di-RT lebih dari 4.000 kali dengan love yang lebih kurang berjumlah sama.
Follow
blackie @pvrity___
#manequinchallenge SHARE‼️ RT‼️
6:28 AM – 27 Oct 2016
4,846 4,846 Retweets 4,832 4,832 likes
Diikuti semua kalangan

Setelahnya, tren mannequin challenge mewabah di seluruh dunia. Beberapa nama populer tak canggung melakukan tantangan itu, mulai dari kandidat presiden AS Hillary Clinton, First Lady Michelle Obama, penyanyi Adele, personel The Beatles Paul McCartney, pembawa acara talkshow Elle DeGeneres, komedian dan pembawa acara Carpool Karaoke James Corden, hingga pemain bola seperti Cristiano Ronaldo.
Di Indonesia, beberapa nama tenar seperti Raffi Ahmad, Aming, dan Jordi Onsu turut meramaikan tren mannequin challenge. Institusi kawakan layaknya kru e-commerce Lazada, kru acara televisi Dahsyat, mahasiswa Universitas Mercu Buana Bekasi, hingga Kepolisian Brebes juga mengunggah video aksi mematung itu.
Konsep mannequin challenge sebenarnya sederhana. Anda cuma perlu mengajak teman-teman mematung dalam waktu 30 detik hingga satu menit. Biasanya pose mematung merujuk pada kegiatan tertentu.

Lantunan lagu “Black Beatles” karya Rae Sremmurd pun siap mengiringi, meski tak menutup kemungkinan lagu lain bisa dipilih.

Pantauan KompasTekno, tak kurang dari 1,2 jutaan video mannequin challenge bisa ditemukan di YouTube. Tanda pagar #MannequinChallenge di Instagram dan Twitter pun jumlahnya mencapai ratusan ribu.

Dengan ini, mannequin challenge berhasil menjadi kehebohan baru di internet, setelah sebelumnya ada PPAP, runningman challenge, planking, harlem shake, gangnam Style, dan dab dance. Lalu, selanjutnya apa lagi?

Google Earth VR Bisa Bikin “Terbang” Keliling Dunia

Google Earth mulai hadir dengan tampilan realitas virtual alias virtual reality (VR). Ini merupakan langkah lebih jauh Google untuk mendekatkan netizen ke berbagai tempat di belahan dunia.

Menurut pabrikan Mountain View tersebut, ada banyak tempat indah dan menakjubkan di dunia. Namun, dunia terlalu luas, sekitar 196,9 juta mil persegi, untuk dijelajahi dengan transportasi yang ada saat ini.

Manusia pun punya batasan umur untuk menjangkau semua tempat. Oleh karenanya, Google Earth bertampilan VR diharapkan mampu membuat netizen menelusuri tempat-tempat indah di dunia lewat penjelajahan visual. Aplikasi itu seakan membuat penggunanya bisa “terbang” mengelilingi dunia dalam waktu singkat.

“Dengan Earth VR, Anda dapat terbang di atas kota, berdiri di dataran tertinggi, dan melonjak ke ruang angkasa,” begitu tertera pada blog resmi Google, sebagaimana dikutip KompasTekno, Selasa (22/11/2016).

Baca: Google Earth Pro Seharga Rp 5 Juta Kini Digratiskan

Beberapa tempat indah yang bisa Anda kunjungi secara sinematik lewat Earth VR adalah Sungai Amazon, kaki langit Manhattan, Grand Canyon, Alpen Swiss, Katedral Florence Italia, Stadium Hong Kong, dan masih banyak lainnya.

Anda bisa mengunduh aplikasi Earth VR di toko aplikasi Steam Store secara gratis. Untuk sementara, aplikasi tersebut baru mendukung perangkat VR HTC Vive.

“Tetap di sini untuk update soal Google Earth di platform lainnya mulai tahun depan,” begitu janji Google.
Earth merupakan layanan yang dikembangkan sejak awal 2000-an oleh perusahaan bernama Keyhole. Kala itu namanya masih Earth Viewer. Google mengakuisisi Keyhole pada 2004 dan mengubah Earth Viewer menjadi Google Earth.

Peluncuran Earth pada 2005 mendapat antusiasme besar dari masyarakat. Pasalnya, Earth menjadi globe virtual pertama yang memanfaatkan teknologi dan aplikasi geospasial.

Lebih jauh, Earth kemudian berkembang dan menjadi cikal bakal Google Maps. Perbedaan dua layanan itu lebih ke fungsinya. Earth lebih menekankan penelusuran tempat secara visual, sementara Maps lebih berfungsi menunjukkan arah dan lokasi.

Terakhir, pengembangan Maps melahirkan Street View yang lebih kurang sama dengan Earth VR. Hanya dengan duduk di rumah, seseorang bisa menjelajahi tempat-tempat tertentu secara virtual.